Kesehatan & Healing

Healing ala Influencer: Ketika Kesehatan Jadi Tren yang Bikin Sakit Kepala

Oh, betapa indahnya hidup di era di mana kesehatan bukan lagi soal merasa baik, tapi soal terlihat baik di feed Instagram. Siapa yang butuh dokter ketika ada influencer yang dengan gagahnya menjual “healing” sebagai paket lengkap: dari jus detoks yang rasanya seperti air keran bercampur rumput, sampai meditasi di Bali yang harganya setara dengan cicilan rumah? Selamat datang di dunia di mana “self-care” bukan lagi tentang merawat diri, tapi tentang membeli ketenangan dengan harga yang bikin dompet menangis.

Detoks: Atau Bagaimana Membuat Ginjal Bekerja Ekstra Keras

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa tiba-tiba semua orang jadi ahli nutrisi hanya karena pernah menonton satu video YouTube? Ya, saya juga heran. Tiba-tiba, jus hijau yang terlihat seperti lumpur dan berasa seperti hukuman menjadi minuman wajib bagi siapa saja yang mengaku peduli kesehatan. “Detoksifikasi”—kata sakti yang membuat orang rela membayar mahal untuk sesuatu yang sebenarnya sudah dilakukan tubuh mereka secara alami, tanpa perlu bantuan jus seharga secangkir kopi di kafe mahal.

Tapi, eh, siapa yang peduli soal fakta ketika ada testimoni dari seorang influencer yang bilang, “Setelah minum jus ini, kulitku glowing dan aku merasa seperti dewi!” Tentu saja, dewi yang baru saja menghabiskan separuh gajinya untuk sesuatu yang bisa digantikan dengan minum air putih dan makan sayur. Tapi, ya, siapa yang butuh logika ketika ada estetika?

Meditasi: Atau Cara Menghabiskan Waktu Sambil Merasa Superior

Meditasi. Kata yang dulu identik dengan biksu di pegunungan kini menjadi tren yang diadopsi oleh para eksekutif stres yang merasa hidup mereka terlalu mewah untuk sekadar duduk diam. Tapi jangan salah, meditasi versi 2024 bukan sekadar duduk bersila sambil menghitung napas. Oh tidak, itu terlalu mainstream. Sekarang, meditasi harus dilakukan di resor mewah di Ubud, dengan instruktur yang suaranya lebih menenangkan daripada ASMR, dan tentu saja, dengan biaya yang bikin dompet berdoa agar cepat kaya.

Dan jangan lupa, setelah meditasi, ada sesi foto yang wajib diunggah ke Instagram dengan caption, “Menemukan kedamaian di tengah hiruk-pikuk kehidupan.” Padahal, kedamaian itu mungkin lebih mudah ditemukan jika tidak perlu repot-repot mengatur pose dan filter agar terlihat seperti orang suci yang baru turun dari surga. Tapi, sekali lagi, siapa yang butuh kedamaian sejati ketika ada validasi dari 10.000 like?

Healing: Ketika Kesehatan Jadi Bisnis yang Menggiurkan

Healing. Kata ini sekarang punya kekuatan magis. Seolah-olah dengan mengatakannya, semua masalah hidup akan lenyap seperti debu di angin. Tapi, ironisnya, healing kini lebih sering dikaitkan dengan produk atau layanan yang harus dibeli, bukan dengan proses yang alami dan personal. Ingin sembuh dari stres? Beli paket retret seharga jutaan. Ingin kulit glowing? Beli serum yang diiklankan oleh influencer yang kulitnya glowing karena lighting dan editing, bukan serumnya.

Dan yang paling lucu, semakin mahal harganya, semakin banyak orang yang percaya bahwa itu adalah jalan pintas menuju kesehatan. Padahal, jika benar-benar ingin healing, mungkin lebih baik mulai dengan hal-hal sederhana: tidur yang cukup, makan makanan yang tidak dikemas dalam botol kaca mahal, dan berhenti membandingkan diri dengan standar kesehatan yang diciptakan oleh algoritma media sosial.

Kesehatan Mental: Atau Bagaimana Membuat Orang Lupa Bahwa Hidup Itu Susah

Kesehatan mental. Dua kata yang tiba-tiba jadi topik hangat, tapi sayangnya, lebih sering dijadikan bahan konten daripada benar-benar dipahami. Tiba-tiba, semua orang jadi psikolog dadakan hanya karena pernah membaca satu artikel tentang mindfulness. “Kamu stres? Coba tulis jurnal rasa syukur!” seolah-olah menulis tiga hal yang disyukuri setiap hari bisa menyelesaikan masalah finansial, hubungan yang toxic, atau pekerjaan yang bikin ingin resign.

Dan jangan lupa, ada juga tren “toxic positivity”—di mana orang dipaksa untuk selalu berpikir positif, seolah-olah emosi negatif adalah dosa yang harus dihindari. Padahal, hidup itu memang susah, dan kadang-kadang, marah, sedih, atau kecewa adalah reaksi yang sangat manusiawi. Tapi, ya, siapa yang butuh emosi kompleks ketika bisa berpura-pura bahagia dengan senyum lebar di foto Instagram?

Kembali ke Akar: Atau Bagaimana Healing Seharusnya Dilakukan

Mungkin sudah waktunya kita berhenti mengikuti tren kesehatan yang diciptakan oleh algoritma dan mulai mendengarkan tubuh kita sendiri. Healing bukan tentang membeli produk mahal atau mengikuti rutinitas yang terlihat sempurna di media sosial. Healing adalah tentang memberi diri kita izin untuk istirahat, untuk merasa, untuk makan makanan yang enak tanpa merasa bersalah, dan untuk menerima bahwa hidup tidak selalu harus terlihat seperti feed Instagram yang estetik.

Jadi, sebelum Anda tergoda untuk membeli paket detoks seharga jutaan atau mengikuti retret meditasi yang bikin dompet menjerit, tanyakan pada diri sendiri: apakah ini benar-benar untuk kesehatan saya, atau hanya untuk membuat saya terlihat seperti orang yang peduli kesehatan? Karena, pada akhirnya, healing bukan tentang terlihat baik, tapi tentang merasa baik—dan itu tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun.

Anda mungkin juga suka...