Kesehatan & Healing

Healing dalam Era Kapitalisme: Ketika Kesehatan Jadi Komoditas yang Dijual ke Kamu dengan Senyum Palsu

Ah, healing. Kata sakti yang tiba-tiba jadi tren, seolah-olah kita semua baru sadar bahwa hidup ini penuh tekanan dan tubuh kita bukan mesin. Tapi tunggu dulu—sejak kapan istilah ini jadi begitu marketable? Sejak para influencer mulai menjual vibes positif dengan harga tiket retreat seharga gaji bulananmu, mungkin? Atau sejak brand kecantikan mengemas racun botox sebagai “self-care” yang harus kamu beli sebelum umur 25?

Healing: Dari Konsep Terapi ke Konten Viral

Dulu, healing mungkin berarti duduk di terapis, menangis sambil mengunyah tisu, atau setidaknya tidur siang tanpa merasa bersalah. Sekarang? Healing adalah aesthetic. Kamu harus healing dengan matcha latte di Bali, yoga di tepi pantai saat matahari terbenam, atau—jika budgetmu pas-pasan—minum air putih sambil menatap dinding kamar kos dengan penuh makna. Semua harus Instagrammable, tentu saja. Karena kalau tidak di-post, apakah healing itu benar-benar terjadi?

Para influencer dengan senyum sempurna dan kulit glowing-nya akan bilang, “Healing itu perjalanan, bukan tujuan.” Tapi coba tanya mereka, berapa harga tiket perjalanan itu? Retreat seharga Rp15 juta di Ubud, sound healing dengan kristal yang harganya lebih mahal dari emas, atau workshop meditasi yang dipandu oleh seseorang yang terlihat seperti baru keluar dari sesi terapi itu sendiri. Healing bukan lagi soal kesehatan mental, tapi soal siapa yang bisa menjualnya dengan paling menarik.

Ketika Self-Care Jadi Beban

Ingat zaman dulu, saat self-care itu sederhana? Mandi air hangat, makan makanan enak, atau sekadar tidak membalas chat orang yang bikin stres. Sekarang, self-care adalah daftar panjang tugas yang harus kamu selesaikan agar dianggap “peduli pada diri sendiri.” Bangun pagi, meditasi 20 menit, journaling, olahraga, skincare routine 10 langkah, dan jangan lupa minum air putih 2 liter—semua sebelum jam 8 pagi. Kalau gagal, selamat, kamu sudah gagal menjadi versi terbaik dirimu sendiri.

Dan jangan lupa, semua itu harus dilakukan dengan vibes yang tepat. Kamu tidak bisa sekadar minum air putih—kamu harus minum air putih dengan botol kaca eco-friendly yang harganya setara dengan sepasang sepatu. Kamu tidak bisa sekadar tidur—kamu harus tidur dengan silk pillowcase agar rambutmu tidak kusut dan kulitmu tetap glowing. Self-care bukan lagi soal merawat diri, tapi soal mengikuti standar yang diciptakan oleh orang-orang yang untung dari ketidakpuasanmu.

Healing ala Kapitalisme: Beli Ini, Rasakan Kebahagiaan (Sementara)

Kapitalisme punya cara unik untuk mengubah penderitaan manusia menjadi peluang bisnis. Stres karena pekerjaan? Beli essential oil yang dijamin bikin kamu tenang—sampai kamu sadar tagihan kartu kreditmu lebih menakutkan dari deadline kantor. Cemas karena hidup tidak berjalan sesuai rencana? Ikut workshop “manifestasi” yang mengajarkanmu untuk “berpikir positif”—sementara instrukturnya sendiri mungkin sedang stres karena harus membayar sewa studio.

Dan jangan lupakan industri farmasi, yang dengan senang hati menjual pil kebahagiaan padamu. Depresi? Ada obatnya. Cemas? Ada obatnya. Bosan hidup? Ada obatnya juga. Tapi entah kenapa, setelah minum obat itu, kamu malah merasa lebih kosong—seperti ada yang hilang, tapi bukan masalahmu, melainkan uang di rekeningmu.

Healing yang Sebenarnya: Mungkin Cuma Mitos

Di tengah hiruk-pikuk ini, mungkin kita lupa bahwa healing bukanlah produk yang bisa dibeli. Healing bukan tentang aesthetic, bukan tentang vibes, dan tentu saja bukan tentang mengikuti tren. Healing adalah proses yang kotor, berantakan, dan seringkali tidak menyenangkan. Kadang healing itu menangis di kamar mandi sambil memeluk lutut, kadang healing itu makan mie instan di tengah malam karena tidak ada yang lain, dan kadang healing itu menerima bahwa kamu tidak harus selalu “baik-baik saja.”

Tapi tentu saja, tidak ada yang mau menjual itu. Tidak ada influencer yang akan mem-post foto dirinya menangis sambil makan mie instan dengan caption “Healing itu jelek, tapi nyata.” Tidak ada brand yang akan menjual skincare dengan klaim “Ini tidak akan membuatmu bahagia, tapi setidaknya kulitmu tidak kusam.” Karena di dunia yang serba instan ini, siapa yang mau membeli sesuatu yang tidak menjanjikan kebahagiaan sempurna?

Kembali ke Esensi: Healing Tanpa Filter

Mungkin sudah waktunya kita berhenti mencari healing di tempat yang salah. Healing bukan tentang mengikuti tren, bukan tentang membeli produk, dan tentu saja bukan tentang pamer di media sosial. Healing adalah tentang menerima bahwa hidup ini tidak sempurna, dan itu tidak apa-apa. Healing adalah tentang memberi diri kita izin untuk lelah, untuk marah, untuk sedih—tanpa harus segera “move on” demi konten yang inspiratif.

Jadi, lain kali kamu melihat iklan retreat yang menjanjikan “transformasi hidup,” atau influencer yang menjual vibes positif dengan harga tiket pesawat, ingatlah: healing bukan komoditas. Healing bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang atau likes. Healing adalah proses yang hanya bisa kamu jalani sendiri, tanpa filter, tanpa aesthetic, dan tentu saja—tanpa harus di-post di Instagram.

Dan kalau kamu merasa lelah dengan semua ini, tidak apa-apa. Mungkin healing yang kamu butuhkan bukanlah retreat mahal atau pil ajaib, tapi sekadar tidur siang tanpa merasa bersalah. Atau mungkin, healing itu hanya tentang berhenti mencarinya di tempat yang salah.

Anda mungkin juga suka...