Ah, healing. Kata sakti yang tiba-tiba jadi obat mujarab untuk segala macam penyakit jiwa—mulai dari burnout kantoran, toxic relationship, sampai rasa bosan karena scrolling TikTok terlalu lama. Tiba-tiba, semua orang jadi ahli terapi dadakan, sibuk memberi nasihat seolah-olah hidup ini cuma perlu secangkir matcha dan afirmasi “Aku cukup” yang diulang-ulang seperti mantra. Padahal, kalau ditelisik lebih dalam, healing yang dijual di media sosial lebih mirip ajang pamer ego ketimbang upaya serius untuk benar-benar sembuh.
Healing Versi Influencer: Ketika Self-Care Jadi Konten
Bayangkan: seorang influencer duduk di tepi pantai dengan secangkir kopi susu (yang entah kenapa selalu terlihat sempurna meski diambil di bawah terik matahari), sambil memegang buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck—yang, ironisnya, mereka sendiri belum tentu baca sampai halaman 10. Captionnya? “Me time is the best time. Jangan lupa self-love, ya!” Seolah-olah healing itu cuma soal estetika dan caption yang bikin orang lain iri.
Padahal, healing yang sejati tidak pernah sesederhana itu. Ia tidak datang dalam bentuk foto-foto aesthetic atau caption yang penuh dengan kata-kata motivasi kosong. Healing itu berantakan, kadang menyakitkan, dan pasti tidak instagrammable. Tapi entah kenapa, di era di mana semua orang ingin terlihat sempurna, healing pun ikut-ikutan jadi produk yang bisa dikemas, dijual, dan dipamerkan.
Self-Care yang Jadi Self-Obsession
Dulu, self-care mungkin berarti tidur lebih awal, makan makanan bergizi, atau sekadar tidak memaksakan diri untuk selalu produktif. Tapi sekarang? Self-care sudah berevolusi jadi self-obsession. Tiba-tiba, semua orang merasa berhak untuk “memilih diri sendiri” dengan cara yang kadang-kadang egois—seperti meninggalkan tanggung jawab, mengabaikan orang lain, atau bahkan merasa lebih superior karena “sudah sadar akan kesehatan mental”.
Contohnya: seorang teman yang tiba-tiba memutuskan untuk “healing” dengan cara resign dari pekerjaan tanpa rencana cadangan, lalu pamer di Instagram Stories tentang betapa “bebasnya” dia sekarang. Padahal, di balik itu, dia mungkin stres karena tagihan menumpuk dan tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi ya, siapa yang peduli? Yang penting terlihat keren dan filosofis di media sosial.
Healing yang Nyata vs. Healing yang Dijual
Healing yang nyata itu seperti terapi: kadang membosankan, kadang menyakitkan, dan pasti tidak selalu menyenangkan. Ia melibatkan proses introspeksi, menerima kekurangan diri, dan berani menghadapi hal-hal yang selama ini dihindari. Sementara healing yang dijual di media sosial lebih mirip fast food—enak, praktis, tapi tidak benar-benar mengenyangkan.
Ambil contoh: meditasi. Di tangan influencer, meditasi jadi aktivitas yang terlihat sangat damai—duduk bersila di atas karpet mahal, dengan lilin aromaterapi dan musik spa yang mengalun lembut. Padahal, meditasi yang sebenarnya bisa jadi sangat tidak nyaman. Pikiranmu melayang ke mana-mana, kamu kesal karena tidak bisa fokus, dan tiba-tiba kamu malah ingat tagihan yang belum dibayar. Tapi itulah meditasi yang sebenarnya—proses belajar untuk tetap tenang di tengah kekacauan, bukan sekadar pose yang terlihat cantik di foto.
Ketika Healing Jadi Kompetisi
Yang lebih parah lagi, healing sekarang jadi ajang kompetisi. Siapa yang punya rutinitas pagi paling sempurna? Siapa yang bisa bangun jam 5 pagi, minum air lemon, lalu bermeditasi selama satu jam? Siapa yang punya jurnal rasa syukur paling estetik? Seolah-olah hidup ini adalah lomba untuk menjadi manusia paling tercerahkan, dan siapa yang kalah, berarti belum cukup “sadar”.
Padahal, healing bukan tentang siapa yang paling banyak punya ritual atau siapa yang paling sering posting tentang kesehatan mental. Healing adalah tentang menemukan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh diri sendiri, bukan apa yang terlihat keren di mata orang lain. Tapi entah kenapa, di era di mana semua orang ingin terlihat sempurna, healing pun jadi bagian dari perlombaan itu.
Healing yang Lelah
Mungkin inilah ironi terbesarnya: healing, yang seharusnya menjadi proses untuk mengurangi beban, malah jadi beban baru. Kita lelah karena harus selalu terlihat bahagia, selalu terlihat sadar, dan selalu terlihat seperti punya hidup yang sempurna. Kita lelah karena healing yang dijual di media sosial lebih banyak menuntut kita untuk terlihat baik-baik saja, daripada benar-benar merasa baik-baik saja.
Jadi, mungkin sudah waktunya kita berhenti mengikuti tren healing versi influencer. Mungkin sudah waktunya kita berhenti membandingkan proses kita dengan orang lain. Dan mungkin, hanya mungkin, healing yang sejati itu bukan tentang terlihat sempurna, tapi tentang menerima bahwa kita tidak sempurna—dan itu tidak apa-apa. Karena pada akhirnya, healing bukan tentang menjadi versi terbaik dari diri kita, tapi tentang menjadi versi yang paling jujur dari diri kita sendiri, meski itu berarti terlihat berantakan, lelah, dan kadang-kadang tidak tahu harus berbuat apa.

