Skip to content
giverius.com

Giverius

Berdamai dengan Diri, Rayakan Setiap Proses

Primary Menu
  • Kebiasaan & Ketahanan
  • Perayaan Kecil
  • Kesadaran Diri & Perawatan Diri
  • Kesehatan & Healing
  • Pertumbuhan Pribadi
  • Home
  • Kesehatan & Healing
  • Healing Bukan Kopi Susu: Ketika Self-Care Jadi Ajang Pamer Ego yang Lelah
  • Kesehatan & Healing

Healing Bukan Kopi Susu: Ketika Self-Care Jadi Ajang Pamer Ego yang Lelah

Healing ala media sosial hanya jadi ajang pamer ego, bukan solusi sesungguhnya—apakah self-care Anda hanya konten semata
giverius@gmail.com Juli 10, 2026 4 minutes read
Healing-Bukan-Kopi-Susu-Ketika-Self-Care-Jadi-Ajang-Pamer-Ego-yang-Lelah.jpg

Ah, healing. Kata sakti yang tiba-tiba jadi obat mujarab untuk segala macam penyakit jiwa—mulai dari burnout kantoran, toxic relationship, sampai rasa bosan karena scrolling TikTok terlalu lama. Tiba-tiba, semua orang jadi ahli terapi dadakan, sibuk memberi nasihat seolah-olah hidup ini cuma perlu secangkir matcha dan afirmasi “Aku cukup” yang diulang-ulang seperti mantra. Padahal, kalau ditelisik lebih dalam, healing yang dijual di media sosial lebih mirip ajang pamer ego ketimbang upaya serius untuk benar-benar sembuh.

Table of Contents

Toggle
  • Healing Versi Influencer: Ketika Self-Care Jadi Konten
    • Self-Care yang Jadi Self-Obsession
  • Healing yang Nyata vs. Healing yang Dijual
    • Ketika Healing Jadi Kompetisi
  • Healing yang Lelah
  • About the Author
    • giverius@gmail.com

Healing Versi Influencer: Ketika Self-Care Jadi Konten

Bayangkan: seorang influencer duduk di tepi pantai dengan secangkir kopi susu (yang entah kenapa selalu terlihat sempurna meski diambil di bawah terik matahari), sambil memegang buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck—yang, ironisnya, mereka sendiri belum tentu baca sampai halaman 10. Captionnya? “Me time is the best time. Jangan lupa self-love, ya!” Seolah-olah healing itu cuma soal estetika dan caption yang bikin orang lain iri.

Padahal, healing yang sejati tidak pernah sesederhana itu. Ia tidak datang dalam bentuk foto-foto aesthetic atau caption yang penuh dengan kata-kata motivasi kosong. Healing itu berantakan, kadang menyakitkan, dan pasti tidak instagrammable. Tapi entah kenapa, di era di mana semua orang ingin terlihat sempurna, healing pun ikut-ikutan jadi produk yang bisa dikemas, dijual, dan dipamerkan.

Self-Care yang Jadi Self-Obsession

Dulu, self-care mungkin berarti tidur lebih awal, makan makanan bergizi, atau sekadar tidak memaksakan diri untuk selalu produktif. Tapi sekarang? Self-care sudah berevolusi jadi self-obsession. Tiba-tiba, semua orang merasa berhak untuk “memilih diri sendiri” dengan cara yang kadang-kadang egois—seperti meninggalkan tanggung jawab, mengabaikan orang lain, atau bahkan merasa lebih superior karena “sudah sadar akan kesehatan mental”.

Contohnya: seorang teman yang tiba-tiba memutuskan untuk “healing” dengan cara resign dari pekerjaan tanpa rencana cadangan, lalu pamer di Instagram Stories tentang betapa “bebasnya” dia sekarang. Padahal, di balik itu, dia mungkin stres karena tagihan menumpuk dan tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi ya, siapa yang peduli? Yang penting terlihat keren dan filosofis di media sosial.

Healing yang Nyata vs. Healing yang Dijual

Healing yang nyata itu seperti terapi: kadang membosankan, kadang menyakitkan, dan pasti tidak selalu menyenangkan. Ia melibatkan proses introspeksi, menerima kekurangan diri, dan berani menghadapi hal-hal yang selama ini dihindari. Sementara healing yang dijual di media sosial lebih mirip fast food—enak, praktis, tapi tidak benar-benar mengenyangkan.

Ambil contoh: meditasi. Di tangan influencer, meditasi jadi aktivitas yang terlihat sangat damai—duduk bersila di atas karpet mahal, dengan lilin aromaterapi dan musik spa yang mengalun lembut. Padahal, meditasi yang sebenarnya bisa jadi sangat tidak nyaman. Pikiranmu melayang ke mana-mana, kamu kesal karena tidak bisa fokus, dan tiba-tiba kamu malah ingat tagihan yang belum dibayar. Tapi itulah meditasi yang sebenarnya—proses belajar untuk tetap tenang di tengah kekacauan, bukan sekadar pose yang terlihat cantik di foto.

Ketika Healing Jadi Kompetisi

Yang lebih parah lagi, healing sekarang jadi ajang kompetisi. Siapa yang punya rutinitas pagi paling sempurna? Siapa yang bisa bangun jam 5 pagi, minum air lemon, lalu bermeditasi selama satu jam? Siapa yang punya jurnal rasa syukur paling estetik? Seolah-olah hidup ini adalah lomba untuk menjadi manusia paling tercerahkan, dan siapa yang kalah, berarti belum cukup “sadar”.

Padahal, healing bukan tentang siapa yang paling banyak punya ritual atau siapa yang paling sering posting tentang kesehatan mental. Healing adalah tentang menemukan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh diri sendiri, bukan apa yang terlihat keren di mata orang lain. Tapi entah kenapa, di era di mana semua orang ingin terlihat sempurna, healing pun jadi bagian dari perlombaan itu.

Healing yang Lelah

Mungkin inilah ironi terbesarnya: healing, yang seharusnya menjadi proses untuk mengurangi beban, malah jadi beban baru. Kita lelah karena harus selalu terlihat bahagia, selalu terlihat sadar, dan selalu terlihat seperti punya hidup yang sempurna. Kita lelah karena healing yang dijual di media sosial lebih banyak menuntut kita untuk terlihat baik-baik saja, daripada benar-benar merasa baik-baik saja.

Jadi, mungkin sudah waktunya kita berhenti mengikuti tren healing versi influencer. Mungkin sudah waktunya kita berhenti membandingkan proses kita dengan orang lain. Dan mungkin, hanya mungkin, healing yang sejati itu bukan tentang terlihat sempurna, tapi tentang menerima bahwa kita tidak sempurna—dan itu tidak apa-apa. Karena pada akhirnya, healing bukan tentang menjadi versi terbaik dari diri kita, tapi tentang menjadi versi yang paling jujur dari diri kita sendiri, meski itu berarti terlihat berantakan, lelah, dan kadang-kadang tidak tahu harus berbuat apa.

About the Author

giverius@gmail.com

Administrator

Visit Website View All Posts

Post navigation

Previous: Menyingkap Tabir Kesadaran Diri: Antara Ilusi dan Realitas Perawatan Diri yang Autentik
Next: Kesadaran Diri sebagai Cermin Perawatan Diri: Mengurai Paradoks Antara Niat dan Tindakan

Cerita Terkait

Kesehatan dan Healing di 2026: Saat Tubuhmu Jadi Proyek Pribadi yang Gagal
  • Kesehatan & Healing

Kesehatan dan Healing di 2026: Saat Tubuhmu Jadi Proyek Pribadi yang Gagal

giverius@gmail.com Agustus 28, 2026
Kesehatan dan Healing di 2026: Antara Self-Care yang Nyata dan Tren yang Lelucon
  • Kesehatan & Healing

Kesehatan dan Healing di 2026: Antara Self-Care yang Nyata dan Tren yang Lelucon

giverius@gmail.com Agustus 21, 2026
Kesehatan dan Healing 2026: Panduan Ironic untuk Bertahan di Era Over-Information
  • Kesehatan & Healing

Kesehatan dan Healing 2026: Panduan Ironic untuk Bertahan di Era Over-Information

giverius@gmail.com Agustus 14, 2026
  • Kesehatan dan Healing di 2026: Saat Tubuhmu Jadi Proyek Pribadi yang GagalKesehatan dan Healing di 2026: Saat Tubuhmu Jadi Proyek Pribadi yang Gagal
  • Kesadaran Diri dan Perawatan Diri: Panduan Praktis untuk Kesejahteraan Holistik di 2026Kesadaran Diri dan Perawatan Diri: Panduan Praktis untuk Kesejahteraan Holistik di 2026
  • Kesehatan dan Healing di 2026: Antara Self-Care yang Nyata dan Tren yang LeluconKesehatan dan Healing di 2026: Antara Self-Care yang Nyata dan Tren yang Lelucon
  • Kesehatan dan Healing 2026: Panduan Ironic untuk Bertahan di Era Over-InformationKesehatan dan Healing 2026: Panduan Ironic untuk Bertahan di Era Over-Information
  • Kesadaran Diri dan Perawatan Diri: Panduan Praktis untuk Kesejahteraan Holistik di 2026Kesadaran Diri dan Perawatan Diri: Panduan Praktis untuk Kesejahteraan Holistik di 2026

Arsip

  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • April 2026

Kategori

  • Kebiasaan & Ketahanan
  • Kesadaran Diri & Perawatan Diri
  • Kesehatan & Healing
  • Pertumbuhan Pribadi

Tentang Kami

  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Sitemap

Jangan Lewatkan

Kesehatan dan Healing di 2026: Saat Tubuhmu Jadi Proyek Pribadi yang Gagal
  • Kesehatan & Healing

Kesehatan dan Healing di 2026: Saat Tubuhmu Jadi Proyek Pribadi yang Gagal

giverius@gmail.com Agustus 28, 2026
Kesadaran Diri dan Perawatan Diri: Panduan Praktis untuk Kesejahteraan Holistik di 2026
  • Kesadaran Diri & Perawatan Diri

Kesadaran Diri dan Perawatan Diri: Panduan Praktis untuk Kesejahteraan Holistik di 2026

giverius@gmail.com Agustus 24, 2026
Kesehatan dan Healing di 2026: Antara Self-Care yang Nyata dan Tren yang Lelucon
  • Kesehatan & Healing

Kesehatan dan Healing di 2026: Antara Self-Care yang Nyata dan Tren yang Lelucon

giverius@gmail.com Agustus 21, 2026
Kesehatan dan Healing 2026: Panduan Ironic untuk Bertahan di Era Over-Information
  • Kesehatan & Healing

Kesehatan dan Healing 2026: Panduan Ironic untuk Bertahan di Era Over-Information

giverius@gmail.com Agustus 14, 2026
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.